Mahathir Menangis Pilu, Selang Oksigen Terpasang Saat Pemakaman Istri
Prime Headline – Suasana haru menyelimuti pemakaman Tun Dr Siti Hasmah Mohd Ali pada Senin, 28 September 2026. Mahathir Mohamad hadir mengiringi perjalanan terakhir perempuan yang telah menjadi pendamping hidupnya selama tujuh dekade. Mantan Perdana Menteri Malaysia itu terlihat menggunakan kursi roda elektrik dengan selang oksigen terpasang. Meski demikian, Mahathir tetap mengikuti rangkaian prosesi bersama anak-anak dan keluarga terdekat. Kesedihan terlihat jelas ketika ia berada di dekat tempat peristirahatan terakhir sang istri. Momen tersebut kemudian menjadi perhatian karena memperlihatkan sisi personal seorang tokoh yang selama puluhan tahun identik dengan panggung politik Malaysia.
Baca Juga: Banjir Kembali Melanda Nepal, 14 Orang Tewas dan 11 Masih Dalam Pencarian
Selang Oksigen Terpasang, Mahathir Tetap Ikuti Prosesi
Kondisi fisik tidak membuat Mahathir meninggalkan rangkaian penghormatan terakhir untuk Siti Hasmah. Dengan selang oksigen dan kursi roda elektrik, ia tetap berada bersama keluarga selama prosesi berlangsung. Bernama melaporkan bahwa Mahathir mengikuti perjalanan terakhir istrinya mulai dari penghormatan keluarga, salat jenazah, hingga pemakaman. Kehadirannya memberikan gambaran kuat mengenai kedekatan pasangan tersebut setelah menjalani kehidupan bersama selama puluhan tahun. Di tengah suasana duka, perhatian publik bukan hanya tertuju pada kondisi Mahathir. Banyak orang juga melihat keteguhannya untuk tetap hadir sampai sang istri mencapai tempat peristirahatan terakhir.
Tangis Pecah di Tengah Suasana Pemakaman
Emosi Mahathir akhirnya terlihat ketika prosesi memasuki bagian paling berat. Setelah jenazah Siti Hasmah dimakamkan, ia tampak menangis dan menyeka air mata. Anggota keluarga berada di dekatnya selama momen tersebut. Adegan sederhana itu terasa kuat karena hubungan Mahathir dan Siti Hasmah telah berlangsung sekitar tujuh dekade. Karena itu, perpisahan tersebut bukan sekadar bagian dari sebuah upacara kenegaraan. Ada cerita panjang tentang keluarga, kebersamaan, serta perjalanan hidup yang berakhir pada sore itu. Bagi publik yang mengikuti perjalanan keduanya, tangis Mahathir menjadi sisi manusiawi dari sebuah kehilangan yang sangat personal.
Tujuh Dekade Kebersamaan Berakhir dalam Perpisahan
Mahathir dan Siti Hasmah menikah pada 1956. Sejak saat itu, keduanya melewati berbagai perubahan besar dalam kehidupan keluarga maupun perjalanan Malaysia. Siti Hasmah mendampingi Mahathir ketika karier politiknya berkembang hingga beberapa kali memimpin pemerintahan. Namun, hubungan mereka tidak hanya dikenal melalui kehidupan politik. Keduanya juga membangun keluarga dan memiliki tujuh anak. Karena perjalanan bersama itu sangat panjang, pemakaman Siti Hasmah membawa makna emosional tersendiri. Dalam konteks human interest, bagian inilah yang membuat cerita tersebut lebih dari sekadar kabar mengenai meninggalnya pasangan seorang mantan pemimpin negara. Ini juga menjadi kisah tentang kehilangan setelah puluhan tahun hidup berdampingan.
Ratusan Pelayat Datang Memberikan Penghormatan Terakhir
Sebelum menuju tempat pemakaman, rangkaian penghormatan berlangsung di Masjid As-Syarif, Seri Kembangan. Ratusan orang datang, termasuk keluarga, tokoh politik, pejabat, serta masyarakat. Besarnya jumlah pelayat bahkan membuat area utama masjid penuh hingga sebagian jamaah berada di bagian luar. Selain itu, pengaturan lalu lintas dilakukan karena banyak kendaraan menuju kawasan tersebut. Setelah prosesi dan salat jenazah selesai, peti Siti Hasmah yang diselimuti Jalur Gemilang dibawa oleh personel berseragam menuju kendaraan jenazah. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Pusara Negara di Presint 20, Putrajaya.
Baca Juga: Inggris Evakuasi Warga di Sekitar Pangkalan Militer yang Digunakan AS
Siti Hasmah Dimakamkan dengan Penghormatan Kenegaraan
Jenazah Siti Hasmah akhirnya dimakamkan di Pusara Negara, Putrajaya, sekitar pukul 18.20 waktu setempat. Pemerintah Malaysia memberikan penghormatan kenegaraan sebagai bentuk penghargaan atas perjalanan hidup dan kontribusinya. Bernama melaporkan bahwa Mahathir, anak-anak, dan keluarga hadir saat pemakaman berlangsung. Delapan petugas dari Angkatan Bersenjata Malaysia dan Kepolisian Diraja Malaysia juga terlibat dalam prosesi. Setelah pemakaman, Jalur Gemilang yang sebelumnya menutupi peti diserahkan sebagai bagian dari rangkaian resmi. Prosesi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Siti Hasmah dikenang bukan hanya sebagai istri mantan perdana menteri, tetapi juga melalui kontribusinya di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
Siti Hasmah Tutup Usia pada Umur 100 Tahun
Siti Hasmah meninggal dunia di National Heart Institute atau Institut Jantung Negara, Kuala Lumpur, pada pagi 28 September 2026. Ia tutup usia pada umur 100 tahun. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh putranya, Tan Sri Mokhzani Mahathir. Sepanjang hidupnya, Siti Hasmah dikenal sebagai salah satu perempuan Melayu generasi awal yang meniti karier di bidang kedokteran. Kiprahnya kemudian berkembang ke berbagai kegiatan kesehatan dan sosial. Oleh sebab itu, kabar kepergiannya mendapat perhatian luas di Malaysia. Ucapan belasungkawa juga datang dari berbagai kalangan, termasuk keluarga kerajaan dan tokoh pemerintahan.
Perpisahan Mahathir dan Siti Hasmah Tinggalkan Momen Emosional
Di balik seluruh rangkaian kenegaraan, bagian yang paling membekas justru hadir melalui momen sederhana. Mahathir duduk di kursi roda, selang oksigen terpasang, sementara orang-orang terdekat berada di sekelilingnya. Setelah puluhan tahun berbagi kehidupan bersama Siti Hasmah, ia kini harus menghadapi perjalanan berikutnya tanpa sang istri. Dari sudut pandang manusia, momen tersebut menjelaskan mengapa pemakaman ini menarik perhatian luas. Jabatan, sejarah politik, dan status kenegaraan seakan berada di belakang untuk sesaat. Yang terlihat adalah seorang suami yang berduka ketika mengantar pasangan hidupnya menuju tempat peristirahatan terakhir.
