September 10, 2026

Robot Humanoid Mulai Turun ke Dunia Nyata, AiMOGA Curi Start di Indonesia

Robot Humanoid Mulai Turun ke Dunia Nyata, AiMOGA Curi Start di Indonesia

Prime Headline – Tahun 2027 berpotensi menjadi titik penting bagi industri robot humanoid. Namun, persaingannya mungkin tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki robot paling pintar atau pabrik paling besar. Tantangan sebenarnya adalah membawa teknologi tersebut keluar dari laboratorium dan membuatnya berguna dalam aktivitas sehari-hari. Goldman Sachs melihat peluang itu semakin besar. Dalam proyeksi terbarunya mengenai Physical AI, pasar robot humanoid diperkirakan dapat mencapai 6,5 juta unit pada 2035. Nilainya berpotensi menembus sekitar Rp2.456 triliun dalam skenario optimistis. Morgan Stanley bahkan melihat peluang pasar yang jauh lebih besar menuju 2050. Angka tersebut memang masih berupa proyeksi, tetapi arah industrinya sudah mulai terlihat. Logistik, manufaktur, layanan pelanggan, hingga kesehatan menjadi medan pengujian pertama. Menariknya, di tengah ambisi Tesla, Xpeng, Unitree, dan pemain besar lainnya, AiMOGA justru mengambil jalan berbeda dengan membawa robotnya langsung ke ruang yang berhadapan dengan konsumen.

Baca Juga: Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan dan Angin Kencang Hari Ini

Bukan Lagi Sekadar Robot yang Bisa Berjalan

Beberapa tahun lalu, video robot humanoid berjalan, berlari, atau mengangkat benda sudah cukup untuk menarik perhatian publik. Kini standar industri berubah. Perusahaan membutuhkan robot yang dapat bekerja secara konsisten, memahami lingkungan, dan memberikan manfaat ekonomi. Karena itu, perusahaan seperti BMW, BYD, Foxconn hingga Airbus mulai menguji atau menggunakan robot untuk kebutuhan industri. Goldman Sachs memperkirakan logistik dan pergudangan menjadi salah satu sektor pertama yang mendorong adopsi besar. Amazon dan Walmart juga sering disebut sebagai perusahaan yang memiliki insentif kuat untuk memperluas otomatisasi. Jika teknologi ini mencapai skala ekonomis, penghematan biaya operasionalnya dapat sangat besar. Kondisi tersebut membuat 2027 menarik untuk diperhatikan. Pada periode inilah sejumlah produsen berencana meningkatkan produksi sekaligus memperluas penggunaan robot humanoid. Dengan kata lain, perlombaan mulai bergeser dari demonstrasi teknologi menuju pertanyaan yang lebih sederhana: siapa yang benar-benar mampu membuat robot bekerja?

Tesla Optimus Membawa Ambisi Produksi dalam Skala Raksasa

Tesla tetap menjadi salah satu nama yang paling banyak mendapat perhatian. Elon Musk berkali-kali menggambarkan Optimus sebagai produk yang suatu hari dapat memiliki skala sangat besar. Tesla bahkan mengarahkan sebagian kapasitas manufakturnya untuk mendukung pengembangan robot tersebut. Target jangka panjangnya ambisius, yakni kapasitas hingga satu juta unit per tahun dengan kisaran harga yang diharapkan sekitar Rp356 juta sampai Rp534 juta per unit. Persoalannya, target bukan berarti produk sudah tersedia secara luas. Jadwal Optimus beberapa kali berubah sejak proyek tersebut diperkenalkan pada 2021. Penjualan kepada pihak di luar ekosistem Tesla diperkirakan baru menjadi lebih relevan pada 2027 apabila pengembangan berjalan sesuai rencana. Tesla mempunyai keuntungan besar dalam AI, manufaktur, baterai, dan rantai pasok. Namun, perusahaan tetap harus membuktikan bahwa seluruh keunggulan tersebut dapat diterjemahkan menjadi robot humanoid yang ekonomis, stabil, dan siap bekerja dalam jumlah besar.

Xpeng Iron Menunjukkan Seberapa Serius China Mengejar Pasar Ini

Persaingan menjadi semakin menarik ketika melihat perkembangan Xpeng Iron. Pada 8 September 2026, lini produksi Iron mulai beroperasi dan memperlihatkan tingkat otomatisasi tinggi. Robot tersebut membawa 76 derajat kebebasan, termasuk 21 pada masing-masing tangan. Xpeng juga membekalinya dengan tiga chip AI Turing yang menawarkan kemampuan komputasi gabungan hingga 2.250 TOPS. Produksi massal ditargetkan berkembang sejak akhir 2026, sedangkan pengiriman yang lebih luas diarahkan menuju 2027. Di balik proyek tersebut terdapat Dogotix, unit robotika Xpeng yang memperoleh pendanaan sekitar Rp16,02 triliun dengan valuasi sekitar Rp112,14 triliun. Nama besar seperti IDG Capital, Alibaba, dan Tencent ikut memperkuat perhatian investor. Menariknya, optimisme terhadap bisnis robot bahkan muncul sebelum Iron mencapai penjualan massal. Margin kotornya diproyeksikan dapat melampaui 50%, jauh di atas margin bisnis kendaraan Xpeng yang berada di kisaran 12%.

Unitree, UBTECH dan AgiBot Membuktikan Harga Sama Pentingnya dengan AI

Tesla dan Xpeng mungkin mendapatkan sorotan besar, tetapi produsen China lainnya sudah bergerak agresif. Unitree menjadi contoh paling jelas. G1 telah dipasarkan dengan harga sekitar Rp284,8 juta, sementara R1 berada di kisaran Rp105 juta. Perusahaan ini mengirim sekitar 5.500 unit pada 2025 dan menargetkan volume yang jauh lebih tinggi pada 2026. Salah satu senjatanya adalah rantai pasok China yang mampu menekan biaya komponen. UBTECH mengambil jalur berbeda melalui pasar industri. Walker S2 digunakan atau diuji di lingkungan manufaktur seperti BYD, Foxconn, Geely, FAW-Volkswagen, Dongfeng, BAIC hingga ekosistem Airbus. Sementara itu, AgiBot atau Zhiyuan Robotics mengejar volume dan telah mencapai produksi kumulatif sekitar 10.000 unit pada Maret 2026. Persaingan ini menunjukkan bahwa kecanggihan AI hanyalah satu bagian dari permainan. Harga, kemampuan produksi, servis, dan ketersediaan komponen bisa menjadi faktor yang sama pentingnya.

Figure dan Atlas Memilih Medan Industri Premium

Di sisi lain, Figure dan Boston Dynamics tidak terburu-buru mengejar konsumen rumahan. Figure 03 diarahkan terutama untuk kebutuhan perusahaan. Teknologinya telah diuji dalam lingkungan manufaktur BMW di Spartanburg, Amerika Serikat, dengan fokus pada pekerjaan yang membutuhkan pengulangan dan presisi tinggi. Figure sendiri memiliki valuasi sekitar Rp694,2 triliun, menunjukkan besarnya ekspektasi investor terhadap robot pekerja berbasis AI. Boston Dynamics mengambil pendekatan yang bahkan lebih selektif. Atlas generasi terbaru belum dijual bebas dan masih berfokus pada program pengembangan serta penggunaan enterprise. Kolaborasi dengan Toyota Research Institute juga memperlihatkan bahwa kemampuan AI menjadi bagian penting dari evolusi Atlas. Strategi seperti ini berbeda dengan Unitree yang mengejar harga lebih terjangkau. Figure dan Boston Dynamics tampaknya lebih tertarik membuktikan nilai ekonomi robot di lingkungan industri terlebih dahulu sebelum berbicara mengenai pasar konsumen yang jauh lebih luas.

AiMOGA Memilih Showroom sebagai Pintu Masuk ke Dunia Nyata

Di tengah perlombaan tersebut, AiMOGA mengambil jalur yang terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak perusahaan Chery ini tidak hanya memperkenalkan robot untuk lingkungan pabrik, tetapi juga membawanya ke showroom, fasilitas publik, rumah sakit, hingga stasiun kereta cepat. Robot humanoid Mornine M1 memiliki tinggi 167 cm dan berat sekitar 70 kg. Tubuhnya menawarkan 40 derajat kebebasan dengan kecepatan berjalan sekitar satu meter per detik. Untuk memahami lingkungan, Mornine dibekali 3D LiDAR, kamera kedalaman, kamera sudut lebar, serta radar ultrasonik. Sistem navigasinya diklaim mampu mencapai akurasi sekitar ±5 cm. Robot ini juga mendukung komunikasi dalam 11 bahasa. Dengan baterai 0,7 kWh, waktu operasionalnya berada di kisaran dua jam sebelum membutuhkan pengisian kembali. Harganya sekitar 285.800 yuan atau kurang lebih Rp729,7 juta berdasarkan konversi yang digunakan dalam informasi produk.

Indonesia Menjadi Etalase Penting bagi Strategi AiMOGA

Hal yang membuat AiMOGA menarik bagi pasar Indonesia bukan hanya spesifikasinya, melainkan kecepatannya membawa robot ke hadapan konsumen. Mornine diperkenalkan kepada publik Indonesia melalui IIMS 2026 di Jakarta pada Februari, kemudian kembali muncul di GIIAS 2026 di ICE BSD pada Agustus. Setelah panggung pameran, robot tersebut mulai digunakan dalam jaringan dealer Chery untuk menyambut pengunjung, membantu memberikan panduan, dan mendampingi interaksi pelanggan dengan staf. Strategi ini memberi AiMOGA sesuatu yang belum dimiliki banyak pesaing: pengalaman langsung bersama pengguna di lingkungan layanan. Robot tidak hanya terlihat dalam video demonstrasi atau berada di balik pagar pabrik. Konsumen dapat melihat bagaimana humanoid berinteraksi dalam situasi nyata. Bagi industri yang masih mencari bentuk penggunaan terbaik, pengalaman semacam itu sangat berharga karena kekurangan teknologi akan jauh lebih cepat terlihat ketika robot harus menghadapi manusia dengan kebutuhan yang tidak selalu dapat diprediksi.

Sertifikasi Menjadi Modal Penting untuk Keluar dari Laboratorium

Kemampuan berjalan atau berbicara saja tidak cukup ketika robot mulai ditempatkan di ruang publik. Faktor keselamatan, keamanan data, dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi semakin penting. Pada 25 Agustus 2026, Mornine memperoleh tiga sertifikasi Uni Eropa yang mencakup CE-MD untuk keselamatan mesin, EN 18031 terkait keamanan siber dan perlindungan data, serta CE-RED untuk perangkat radio. Pengujiannya dilakukan TÜV Rheinland. AiMOGA juga mengantongi sertifikasi FCC untuk pasar Amerika Serikat. Bagi produsen robot, pencapaian seperti ini mungkin kurang spektakuler dibanding video robot melakukan gerakan ekstrem. Namun, justru aspek tersebut yang menentukan apakah teknologi bisa digunakan secara luas. President of Chery International sekaligus President of AiMOGA Robotics, Zhang Guibing, menggambarkan sertifikasi bukan sekadar proses administratif, melainkan bagian awal perjalanan robot menuju penggunaan di dunia nyata. Pandangan itu sejalan dengan strategi perusahaan yang lebih menekankan implementasi dibanding demonstrasi.

Baca Juga: Bocoran iPhone Lipat Apple Makin Panas, Harga Tertinggi Nyaris Rp60 Juta

Lebih dari 2.000 Robot AiMOGA Sudah Menjangkau Puluhan Negara

AiMOGA juga mulai membangun jaringan internasional. Perusahaan menyebut lebih dari 2.000 unit telah dikirim ke lebih dari 60 negara dengan dukungan lebih dari 300 distributor. Penggunaannya tersebar pada lebih dari 100 skenario, mulai dari ritel otomotif, panduan medis, layanan publik, perpustakaan hingga fasilitas transportasi. Di China, robot juga mulai diuji dalam aktivitas pelayanan masyarakat. Sementara di Asia Tenggara, ekspansi bergerak melalui negara seperti Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Vietnam bahkan telah mendapatkan AI Robot Experience Center. Indonesia memiliki alasan kuat untuk menjadi salah satu pasar berikutnya yang diperhatikan. Populasi besar, perkembangan sektor jasa, pertumbuhan pusat perbelanjaan, jaringan rumah sakit, transportasi publik, serta industri otomotif menciptakan banyak ruang eksperimen. Namun, harga dan biaya pemeliharaan tetap menjadi tantangan. Robot humanoid baru akan menarik secara ekonomi apabila produktivitasnya mampu mengimbangi investasi awal yang masih cukup tinggi.

Logistik dan Pabrik Kemungkinan Menjadi Medan Pertempuran Pertama

Meskipun robot humanoid terlihat menarik ketika menjadi resepsionis, uang terbesar dalam beberapa tahun pertama kemungkinan tetap datang dari industri. Goldman Sachs melihat logistik dan pergudangan sebagai salah satu pintu masuk utama. Dalam skenario adopsi besar, Amazon diperkirakan memiliki peluang menghemat biaya layanan hingga sekitar US$72 miliar pada 2030. Industri otomotif menjadi medan berikutnya karena beberapa pekerjaan seperti final assembly dan pemilahan komponen masih membutuhkan tenaga manusia dalam jumlah besar. Perhitungan Goldman Sachs menunjukkan bahwa pembelian robot pada kisaran Rp356 juta hingga Rp1,07 miliar per unit, dengan tingkat adopsi tertentu, berpotensi meningkatkan margin kotor produsen kendaraan. Dalam survei terhadap eksekutif perusahaan global, sekitar 40% responden juga memperkirakan setidaknya 10% alur kerja mereka dapat diotomasi menggunakan robot serbaguna dalam tiga sampai lima tahun. Setelah industri, kesehatan, eldercare, pendidikan, dan layanan publik diperkirakan menjadi pasar berikutnya.

Pemenangnya Belum Tentu Robot yang Paling Canggih

Perlombaan robot humanoid akhirnya tidak memiliki satu jalur kemenangan. Tesla memiliki pengalaman manufaktur massal dan ekosistem AI. Xpeng datang dengan teknologi komputasi besar serta dukungan investor. Unitree menekan harga. UBTECH sudah membangun hubungan dengan pelanggan industri. Figure memperoleh kepercayaan dari perusahaan manufaktur premium, sedangkan AgiBot mengejar volume. Boston Dynamics tetap menjadi salah satu tolok ukur kemampuan robotik tingkat tinggi. AiMOGA membawa pendekatan berbeda: memperkenalkan humanoid melalui tempat yang bisa dikunjungi masyarakat. Karena itu, 2027 mungkin bukan sekadar “perang robot” dalam arti siapa yang memiliki spesifikasi tertinggi. Persaingan sebenarnya adalah siapa yang mampu memproduksi dengan murah, menjaga robot tetap aman, menyediakan servis, dan menemukan pekerjaan yang membuat investasi tersebut masuk akal. Di Indonesia, AiMOGA setidaknya sudah mengambil satu langkah lebih awal. Ketika beberapa pesaing masih menyiapkan ekspansi, Mornine sudah mulai berdiri di ruang yang sama dengan pelanggan.