Malaysia Beri Penghormatan Kenegaraan untuk Istri Mahathir Mohamad
Prime Headline – Malaysia tengah diselimuti suasana duka setelah Tun Dr Siti Hasmah Mohd Ali meninggal dunia pada Senin, 28 September 2026. Istri mantan Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad itu mengembuskan napas terakhir pada usia 100 tahun di Institut Jantung Negara (IJN), Kuala Lumpur. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh putranya, Tan Sri Mokhzani Mahathir. Siti Hasmah meninggalkan tujuh anak serta perjalanan hidup panjang yang lekat dengan sejarah modern Malaysia. Namun, kepergiannya tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga Mahathir. Selama puluhan tahun, ia dikenal publik melalui berbagai aktivitas sosial dan kemasyarakatan. Karena itu, pemerintah Malaysia memutuskan memberikan penghormatan kenegaraan kepada mendiang. Penghormatan tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap pengabdian yang pernah ia berikan kepada masyarakat.
Baca Juga: Inggris Evakuasi Warga di Sekitar Pangkalan Militer yang Digunakan AS
Anwar Ibrahim Instruksikan Penghormatan Kenegaraan
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menginstruksikan jajaran pemerintah dan militer membantu persiapan penghormatan pemakaman kenegaraan bagi Siti Hasmah. Menurut Anwar, penghormatan tersebut diberikan sesuai kedudukan dan kontribusi mendiang terhadap negara. Ia juga menyampaikan simpati kepada Mahathir Mohamad beserta seluruh keluarga yang sedang berduka. Keputusan ini membuat prosesi terakhir Siti Hasmah memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya keluarga yang kehilangan seorang ibu dan pendamping hidup, tetapi masyarakat Malaysia juga melepas figur yang telah lama hadir dalam ruang publik. Di sisi lain, penghormatan kenegaraan menunjukkan bahwa peran seseorang tidak selalu dinilai dari jabatan politik yang pernah dipegang. Kontribusi sosial yang berlangsung konsisten selama bertahun-tahun juga dapat meninggalkan jejak kuat dalam ingatan sebuah negara.
Sosok yang Lebih dari Sekadar Istri Perdana Menteri
Nama Siti Hasmah memang sangat dekat dengan Mahathir Mohamad. Namun, perjalanan hidupnya mempunyai identitas tersendiri. Ia dikenal sebagai dokter sekaligus figur yang terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Ketika Mahathir menjalankan tugas sebagai perdana menteri, Siti Hasmah juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Anwar secara khusus mengenang keterlibatannya dalam kegiatan amal dan isu yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, kisah hidup Siti Hasmah tidak cukup dilihat hanya dari posisinya sebagai pendamping seorang tokoh politik besar. Ia memiliki ruang pengabdian sendiri yang membuat namanya dikenal lintas generasi. Dari sudut pandang publik, hal inilah yang membuat penghormatan terakhir untuk Siti Hasmah terasa personal sekaligus nasional. Malaysia kehilangan seseorang yang kehidupannya bersinggungan dengan pelayanan kesehatan, keluarga, kegiatan sosial, dan perjalanan pemerintahan negara tersebut.
Perjalanan Terakhir Dimulai dari Institut Jantung Negara
Suasana duka terlihat di Institut Jantung Negara setelah kabar meninggalnya Siti Hasmah tersebar. Bernama melaporkan jenazah meninggalkan IJN sekitar pukul 10.48 waktu setempat menuju kediaman keluarga di The Mines, Seri Kembangan, Selangor. Sejumlah anggota keluarga terlihat berada di rumah sakit, termasuk Marina Mahathir, Mokhzani Mahathir, dan Mukhriz Mahathir. Aparat kepolisian serta petugas keamanan IJN turut berjaga untuk mengatur situasi di sekitar lokasi. Momen tersebut menjadi awal perjalanan terakhir Siti Hasmah setelah mencapai usia satu abad. Meski perhatian publik cukup besar, suasana yang tergambar tetap berpusat pada kehilangan keluarga. Di tengah sorotan media, keluarga Mahathir menghadapi perpisahan dengan sosok yang telah menjadi bagian penting kehidupan mereka selama puluhan tahun.
Kisah Mahathir dan Siti Hasmah Melewati Tujuh Dekade
Di balik kehidupan publik mereka, hubungan Mahathir dan Siti Hasmah juga memiliki perjalanan yang sangat panjang. Keduanya bertemu ketika menempuh pendidikan kedokteran di Singapura pada 1947 dan menikah pada 1956. Pada Agustus 2026, pasangan tersebut bahkan menandai ulang tahun pernikahan ke-70. Pada tahun yang sama, Mahathir telah berusia 101 tahun, sedangkan Siti Hasmah mencapai usia 100 tahun. Mereka kemudian memperoleh sejumlah pengakuan atas pencapaian sebagai pasangan berusia lebih dari satu abad. Kisah tersebut memberikan dimensi manusiawi di balik kehidupan dua figur yang selama puluhan tahun berada dalam sorotan publik Malaysia. Setelah tujuh dekade menjalani kehidupan bersama, kepergian Siti Hasmah tentu menjadi perubahan besar bagi Mahathir dan keluarganya. Karena itu, penghormatan yang datang bukan hanya berkaitan dengan sejarah politik, tetapi juga perjalanan keluarga yang sangat panjang.
Baca Juga: Menhan Kazakhstan Dipecat Usai 14 Tentara Tewas Saat Latihan Militer
Kepedulian pada Kesehatan Menjadi Bagian dari Jejaknya
Latar belakang Siti Hasmah sebagai dokter ikut membentuk citra publiknya. Salah satu contoh terlihat ketika ia berbicara terbuka mengenai pengalaman menghadapi kanker payudara pada 2019. Saat itu, ia mendorong perempuan menjalani pemeriksaan kesehatan dan menekankan pentingnya deteksi dini. Pesan tersebut terasa kuat karena datang dari pengalaman pribadinya sendiri. Pendekatan seperti ini memperlihatkan sisi lain Siti Hasmah di luar kegiatan seremonial sebagai istri perdana menteri. Ia menggunakan pengalamannya untuk menyampaikan pesan kesehatan yang mudah dipahami masyarakat. Dalam konteks E-E-A-T, rekam jejak semacam ini membuat kisahnya memiliki dasar pengalaman nyata, bukan sekadar simbolisme. Selain itu, keterlibatannya dalam isu kesehatan memperlihatkan hubungan antara latar belakang profesional dan aktivitas sosial yang ia jalani selama bertahun-tahun.
Penghormatan Malaysia Mencerminkan Warisan Panjang Siti Hasmah
Keputusan Malaysia memberikan penghormatan kenegaraan juga dapat dibaca sebagai pengakuan terhadap perjalanan panjang Siti Hasmah. Selama hidupnya, ia menyaksikan perubahan besar dalam masyarakat dan pemerintahan Malaysia. Pada saat yang sama, ia tetap mempunyai aktivitas serta perhatian yang melampaui kehidupan politik suaminya. Bahkan, keterlibatannya pernah menyentuh dunia olahraga. Bernama mencatat perannya sebagai patron bulu tangkis dan kedekatannya dengan skuad Malaysia yang menjuarai Piala Thomas 1992. Cerita tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh Siti Hasmah menjangkau berbagai lapisan kehidupan publik. Oleh karena itu, warisan yang ditinggalkan tidak berdiri pada satu bidang saja. Ada unsur kesehatan, sosial, olahraga, keluarga, dan kehidupan kenegaraan yang saling bertemu. Inilah yang membuat penghormatan terakhir kepadanya memiliki konteks lebih luas daripada sekadar hubungan dengan seorang mantan perdana menteri.
Malaysia Melepas Figur yang Hidup Melintasi Zaman
Kepergian Siti Hasmah pada usia 100 tahun menutup perjalanan yang melintasi banyak fase penting sejarah Malaysia. Hanya beberapa pekan sebelum wafat, ia dan Mahathir masih menerima pengakuan atas pencapaian usia mereka sebagai pasangan centenarian. Kini, suasananya berubah menjadi penghormatan terakhir. Pemerintah Malaysia menyiapkan prosesi kenegaraan, sementara keluarga menghadapi kehilangan yang jauh lebih pribadi. Di sinilah kisah Siti Hasmah terasa berbeda. Namanya memang tidak dapat dipisahkan dari Mahathir, tetapi jejak kehidupannya mempunyai cerita sendiri. Ia pernah menjadi dokter, pendamping kepala pemerintahan, tokoh sosial, serta figur yang hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat. Karena itu, penghormatan kenegaraan menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang seorang perempuan yang selama puluhan tahun berada dekat dengan denyut kehidupan Malaysia.
