July 21, 2026

Mbappe Lewati Messi Jadi Raja Gol Piala Dunia, Ini Komentarnya

Mbappe Lewati Messi Jadi Raja Gol Piala Dunia, Ini Komentarnya

Prime Headline – Kylian Mbappe menutup perjalanan Prancis di Piala Dunia 2026 dengan sebuah catatan bersejarah. Dua golnya dalam pertandingan perebutan tempat ketiga membawa koleksinya menjadi 22 gol di putaran final. Dengan jumlah tersebut, Mbappe lewati Messi yang sebelumnya berada di puncak dengan 21 gol. Namun, malam bersejarah itu tidak berakhir sempurna. Prancis harus mengakui keunggulan Inggris dengan skor 4-6 setelah tertinggal empat gol pada babak pertama. Karena itu, sang kapten tidak merayakan pencapaiannya secara berlebihan. Rekor pribadi memang terasa istimewa, tetapi hasil tim tetap menjadi ukuran utama baginya.

Baca Juga: Lima Catatan Penting Jelang Duel Fajar Fikri Kontra Hoki Kobayashi

Dua Gol yang Mengubah Sejarah Piala Dunia

Mbappe memasuki pertandingan melawan Inggris dengan 20 gol sepanjang kariernya di Piala Dunia. Ia kemudian mencetak dua gol dan langsung mengambil alih posisi teratas. Catatan 22 gol tersebut terasa semakin luar biasa karena ia membukukannya dalam 22 penampilan. Artinya, rata-rata golnya mencapai satu gol per pertandingan. Sebelum laga perebutan tempat ketiga, FIFA mencatat Mbappe berada tepat di belakang Messi. Oleh sebab itu, dua gol terakhirnya bukan sekadar tambahan statistik. Keduanya menjadi penanda perubahan generasi dalam daftar penyerang tersubur turnamen sepak bola terbesar dunia.

Kekalahan Prancis Membayangi Rekor Besar Mbappe

Pertandingan di Miami berjalan jauh dari rencana Prancis. Inggris tampil agresif dan menutup babak pertama dengan keunggulan 4-0. Les Bleus lalu memperlihatkan reaksi yang jauh lebih kuat setelah turun minum. Mereka mampu mencetak empat gol dan sempat membuka peluang untuk menyamakan kedudukan. Meski demikian, Inggris tetap menambah dua gol dan memastikan kemenangan 6-4. Bagi Mbappe, situasi tersebut menciptakan perasaan yang bertolak belakang. Ia baru saja meraih rekor terbesar dalam karier internasionalnya. Namun, pada saat yang sama, Prancis kehilangan kesempatan membawa pulang medali perunggu.

Mbappe Soroti Dua Wajah Berbeda Timnas Prancis

Dalam komentarnya setelah pertandingan, Mbappe menilai Prancis memperlihatkan dua penampilan yang sangat berbeda. Ia memahami kekecewaan pendukung terhadap permainan tim pada babak pertama. Menurutnya, penampilan awal tersebut tidak mencerminkan standar yang seharusnya dijaga oleh tim nasional Prancis. Namun, respons setelah jeda menunjukkan karakter dan kualitas para pemain. Prancis bermain lebih berani, meningkatkan tekanan, dan mulai menemukan ruang di pertahanan Inggris. Sayangnya, perubahan itu datang terlalu terlambat. Penilaian Mbappe terasa jujur karena ia tidak menggunakan rekor pribadinya untuk menutupi kelemahan tim.

Laga Terakhir Deschamps Menambah Rasa Kecewa

Hasil tersebut juga terasa emosional karena menjadi pertandingan terakhir Didier Deschamps bersama Prancis. Mbappe menegaskan bahwa para pemain ingin mempersembahkan hasil positif untuk sang pelatih. Akan tetapi, kebangkitan pada babak kedua belum cukup untuk mewujudkan keinginan itu. Meski gagal menutup era Deschamps dengan kemenangan, Mbappe menilai satu pertandingan tidak akan merusak warisan panjang pelatih tersebut. Deschamps telah menangani banyak pertandingan Piala Dunia dan membawa Prancis melalui periode penuh prestasi. Bahkan, FIFA mencatatnya sebagai pelatih dengan jumlah pertandingan terbanyak dalam sejarah turnamen tersebut.

Baca Juga: Perang Taktik Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia 2026, Duel Pertahanan Kukuh Melawan Serangan Mematikan

Piala Dunia 2026 Menegaskan Ketajaman Sang Kapten

Secara individu, Mbappe menjalani turnamen yang sangat produktif. Ia mencetak dua gol pada pertandingan pembuka melawan Senegal dan sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Prancis. Setelah itu, ia terus memberi pengaruh dalam perjalanan Les Bleus menuju fase akhir. FIFA mencatat kontribusi pentingnya dalam pertandingan melawan Swedia, Paraguay, dan Maroko. Performa tersebut menunjukkan bahwa Mbappe tidak hanya tajam pada fase grup. Ia juga mampu menentukan hasil saat tekanan meningkat di babak gugur. Karena itu, keberhasilannya mencapai 22 gol terasa sebagai hasil dari konsistensi panjang, bukan sekadar ledakan dalam satu pertandingan.

Mbappe Lewati Messi pada Usia yang Masih Produktif

Pencapaian ini semakin menarik karena Mbappe baru berusia 27 tahun. Ia masih memiliki peluang besar untuk tampil pada setidaknya satu edisi Piala Dunia berikutnya. Apabila kondisi fisik dan performanya tetap terjaga, jumlah 22 gol bisa terus bertambah. Sebagai perbandingan, sebelum turnamen 2026 dimulai, Mbappe masih memiliki 12 gol. FIFA bahkan telah menyoroti peluangnya melewati rekor lama Miroslav Klose apabila mampu mencetak sedikitnya lima gol. Kenyataannya, ia melampaui target tersebut dan kini berdiri di atas Messi dalam daftar gol sepanjang masa.

Rekor Individu Tidak Mengubah Prioritas Utama Mbappe

Momen ketika Mbappe lewati Messi memperkuat posisinya sebagai salah satu penyerang terbesar pada era modern. Namun, responsnya setelah pertandingan menunjukkan bahwa ia tetap menempatkan keberhasilan tim di atas penghargaan pribadi. Sikap tersebut sejalan dengan komentarnya pada awal turnamen. Saat itu, Mbappe mengatakan bahwa tujuan utamanya adalah membuat sejarah untuk Prancis dan membawa tim meraih gelar. Pada akhirnya, ia memang mencetak sejarah, tetapi bukan hasil kolektif yang diinginkan. Perbedaan itulah yang menjelaskan mengapa rekor 22 gol terasa manis sekaligus pahit bagi kapten Les Bleus.