Pesawat Militer Kongo Jatuh di Permukiman, 17 Orang Tewas
Prime Headline – Pesawat militer yang terbang dari Kikwit menuju Kinshasa jatuh di kawasan permukiman Kenge, Provinsi Kwango, Republik Demokratik Kongo, pada Jumat. Sebanyak 17 orang meninggal dunia, termasuk dua jenderal. Peristiwa ini mengguncang keluarga korban sekaligus warga di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Sebuah penerbangan yang semula menuju ibu kota berubah menjadi kecelakaan yang kini menunggu jawaban dari penyelidikan resmi.
Baca Juga: Mary Jane Veloso Menuju Kebebasan Setelah Perjalanan Panjang 15 Tahun
Masalah Teknis Muncul Sebelum Pesawat Jatuh
Menurut Wakil Gubernur Kwango Remy Saki Bokinda, pesawat mengalami masalah teknis saat dalam perjalanan. Awak kemudian berupaya melakukan pendaratan di Kenge. Namun, wilayah itu tidak memiliki landasan yang dapat digunakan. Pesawat akhirnya jatuh ke area permukiman dan terbakar setelah menghantam tanah. Keterangan tersebut menjelaskan rangkaian kejadian menjelang kecelakaan. Meski begitu, penyebab pasti masalah teknis dan jatuhnya pesawat masih perlu dipastikan melalui investigasi.
Jumlah Korban Bertambah Setelah Api Padam
Laporan awal mencatat 13 orang tewas. Pada Sabtu, jumlah itu naik menjadi 17 setelah petugas berhasil memadamkan api yang membakar bangkai pesawat. Saki Bokinda mengatakan petugas menemukan jenazah 16 orang dewasa dan seorang bayi. Perubahan angka ini menunjukkan mengapa laporan awal sebuah kecelakaan besar perlu dibaca dengan hati-hati. Petugas membutuhkan waktu untuk menjangkau lokasi, mengendalikan api, dan memastikan jumlah korban.
Dua Jenderal Berada di Antara Korban
Militer Kongo menyatakan dua jenderal yang sedang menjalankan misi resmi turut meninggal dunia. Mereka adalah Letnan Jenderal Joseph Mutombo dan Letnan Jenderal Lucien-Rene Likulia. Mutombo menjabat sebagai presiden pertama Pengadilan Tinggi Militer, sedangkan Likulia merupakan auditor jenderal militer. Kabar ini menambah berat duka bagi institusi militer Kongo. Namun, di balik jabatan para korban, tragedi tersebut juga merenggut anggota keluarga lain, termasuk seorang bayi.
Pesawat Jatuh di Kawasan Permukiman
Lokasi kecelakaan membuat peristiwa ini semakin mengkhawatirkan. Pesawat tidak jatuh di wilayah terbuka, melainkan di area tempat warga tinggal. Meski demikian, informasi yang tersedia belum merinci apakah ada warga di darat yang menjadi korban. Karena itu, jumlah 17 korban tewas sebaiknya tidak langsung ditafsirkan sebagai jumlah penumpang atau korban di permukiman. Rincian tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Baca Juga: 5 Orang Tewas di Sungai Kupa Saat Mencoba Menyeberang ke Slovenia
Presiden Kongo Perintahkan Penyelidikan
Presiden Félix Tshisekedi telah meminta pihak berwenang menyelidiki kecelakaan ini secara menyeluruh. Penyelidikan diharapkan dapat menjelaskan kondisi pesawat, masalah teknis yang dilaporkan, serta rangkaian keputusan sebelum pesawat jatuh. Sementara itu, kantor kepresidenan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan orang-orang terdekat korban. Bagi mereka, hasil investigasi kelak bukan sekadar dokumen resmi. Penjelasan yang jelas dapat membantu menjawab pertanyaan tentang perjalanan terakhir orang yang mereka cintai.
Operasi Tracep Congo Aviation Dihentikan Sementara
Menurut Saki Bokinda, pesawat kecil tersebut dioperasikan oleh Tracep Congo Aviation. Kementerian Transportasi Kongo kemudian menghentikan seluruh operasi perusahaan itu di dalam negeri. Penghentian berlaku hingga penyelidikan oleh otoritas investigasi kecelakaan penerbangan selesai. Langkah ini memberi ruang bagi pemeriksaan yang lebih teliti. Namun, keputusan tersebut belum dapat dianggap sebagai penetapan kesalahan perusahaan. Temuan penyelidikan tetap menjadi dasar untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Jawaban Resmi Masih Dinantikan
Sejauh ini, pihak berwenang telah menyampaikan lokasi kecelakaan, jumlah korban, dan laporan mengenai masalah teknis. Akan tetapi, penyebab akhir kecelakaan belum diumumkan. Publik masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui mengapa penerbangan menuju Kinshasa berakhir di permukiman Kenge. Di tengah penantian itu, perhatian utama tertuju pada keluarga 17 korban. Mereka menghadapi kehilangan yang mendadak, sementara proses pencarian jawaban baru dimulai.
