September 26, 2026

SBY hingga JK Datang Melayat, Rumah Duka Guruh Soekarnoputra

SBY hingga JK Datang Melayat, Rumah Duka Guruh Soekarnoputra

Prime Headline – Suasana duka menyelimuti kediaman Guruh Soekarnoputra di Jalan Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (26/9/2026). Sejak pagi, sejumlah tokoh nasional datang untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga. SBY hingga JK menjadi bagian dari para pelayat yang hadir pada hari tersebut. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono tiba sekitar pukul 11.36 WIB. Ia mengenakan kemeja dan celana hitam serta peci berwarna senada. Setelah tiba, SBY segera memasuki rumah duka. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla juga terlihat datang. Kehadiran keduanya berlangsung dalam suasana berkabung dan menjadi bagian dari rangkaian penghormatan kepada Guruh. Sementara itu, rumah duka sejak pagi telah didatangi berbagai tokoh dan kerabat. Guruh meninggal dunia pada usia 73 tahun. Ia dikenal sebagai putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati.

Baca Juga: TNI-Polri dan Mahasiswa Bersatu Bersihkan Pasar Pelalawan

Kedatangan SBY Menjadi Salah Satu Momen yang Disorot

Kedatangan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi salah satu momen yang mendapat perhatian awak media di sekitar rumah duka. SBY tiba dengan pakaian serba hitam. Namun, ia tidak memberikan pernyataan panjang ketika baru datang. Kepada wartawan, SBY hanya meminta izin untuk masuk terlebih dahulu. Setelah itu, ia menemui keluarga yang sedang berduka. Tak lama kemudian, Jusuf Kalla juga terlihat berada di rumah duka. SBY hingga JK datang dengan tujuan yang sama, yakni menyampaikan belasungkawa atas kepergian Guruh Soekarnoputra. Momen tersebut memperlihatkan sisi lain kehidupan publik. Di tengah perbedaan perjalanan politik dan pengalaman pemerintahan masing-masing, suasana duka menghadirkan ruang pertemuan yang berbeda. Fokus hari itu bukan perdebatan politik, melainkan penghormatan kepada sosok yang telah berpulang. Kehadiran para mantan pemimpin negara juga melengkapi rangkaian pelayat yang terus berdatangan.

Sejumlah Pejabat Negara Turut Menyampaikan Belasungkawa

Bukan hanya SBY hingga JK yang terlihat datang ke rumah duka. Sejumlah pejabat negara juga hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto termasuk di antara tokoh yang datang. Menteri Agama Nasaruddin Umar juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Guruh. Sementara itu, unsur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut terlihat di lokasi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno datang melayat. Selain mereka, Jimly Asshiddiqie dan mantan hakim Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat turut hadir. Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno juga telah datang sebelumnya. Dengan demikian, rumah duka menjadi tempat berkumpulnya figur dari berbagai latar belakang. Kehadiran mereka menunjukkan luasnya lingkungan sosial dan profesional yang bersinggungan dengan perjalanan hidup Guruh.

Rumah Duka Mulai Dipadati Pelayat Sejak Pagi

Rangkaian penghormatan kepada Guruh sebenarnya telah berlangsung sejak pagi. Jenazah tiba di kediaman keluarga sekitar pukul 07.35 WIB menggunakan ambulans berlogo PDI Perjuangan. Ketika itu, sejumlah pelayat sudah berada di sekitar rumah duka. Karangan bunga juga terlihat memenuhi beberapa bagian kawasan tersebut. Selain keluarga dan kerabat, sejumlah elite PDI Perjuangan mulai berdatangan. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto terlihat hadir dengan mengenakan kemeja hitam. Ketua DPP PDI Perjuangan Prananda Prabowo juga datang bersama istrinya, Nancy Prananda. Karena jumlah pelayat terus bertambah, petugas keamanan terlihat berjaga di sekitar lokasi. Beberapa kendaraan juga terparkir di kawasan Jalan Sriwijaya Raya. Suasana tersebut menggambarkan besarnya perhatian terhadap kepergian Guruh. Dari keluarga hingga tokoh publik, para pelayat datang secara bergantian untuk memberikan penghormatan terakhir.

Guruh Soekarnoputra Berpulang pada Usia 73 Tahun

Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun. Berdasarkan keterangan yang diberitakan, ia berpulang sekitar pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Kabar tersebut kemudian membawa duka bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Guruh merupakan putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati. Ia juga merupakan adik Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Namun, perjalanan hidup Guruh tidak hanya dikenal melalui latar belakang keluarganya. Ia membangun identitas sendiri melalui seni, budaya, musik, koreografi, serta politik. Karena itu, kabar kepergiannya mendapat perhatian dari berbagai lingkungan. PDI Perjuangan juga menyampaikan rasa kehilangan dan mengenangnya sebagai seniman serta tokoh yang memiliki perjalanan panjang bersama partai. Kepergian Guruh pun menutup salah satu perjalanan panjang figur yang berada di persimpangan budaya dan kehidupan publik Indonesia.

Seni dan Budaya Menjadi Bagian Penting Perjalanan Guruh

Di luar kehidupan politik, nama Guruh memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan seni Indonesia. Ia dikenal sebagai seniman, budayawan, koreografer, dan pencipta lagu. Karyanya juga bersinggungan dengan sejumlah musisi besar Indonesia. Salah satu hubungan kreatif yang paling dikenal publik adalah kolaborasinya dengan Chrisye. Sejumlah karya Guruh yang dibawakan Chrisye kemudian bertahan lintas generasi. “Kala Cinta Menggoda” menjadi salah satu contohnya. Lagu tersebut mempertemukan musik populer dengan unsur budaya Indonesia. Selain itu, karya seperti “Kala Sang Surya Tenggelam” dan “Zamrud Khatulistiwa” ikut memperlihatkan luasnya gagasan musikal Guruh. Oleh karena itu, warisannya tidak hanya berkaitan dengan politik atau nama besar keluarga Soekarno. Karya seni yang ia tinggalkan juga menjadi bagian penting dari cara publik mengenangnya.

Kehadiran Tokoh Lintas Generasi Membawa Makna Tersendiri

Banyaknya figur yang hadir memberikan gambaran mengenai luasnya perjalanan sosial Guruh. Ada mantan pemimpin negara, menteri, pejabat daerah, tokoh hukum, hingga rekan dari lingkungan politik. Mereka datang dari generasi dan pengalaman yang berbeda. Namun, pada hari berkabung tersebut, seluruh perhatian tertuju kepada keluarga yang kehilangan salah satu anggotanya. Kehadiran SBY hingga JK juga menambah daftar tokoh nasional yang memberikan penghormatan secara langsung. Dalam konteks kemanusiaan, suasana semacam ini sering menghadirkan ruang yang lebih personal dibandingkan kehidupan publik sehari-hari. Gelar dan jabatan berada di belakang, sementara belasungkawa menjadi hal utama. Karena itu, ramainya rumah duka tidak hanya menggambarkan posisi Guruh sebagai figur publik. Situasi tersebut juga memperlihatkan jaringan pertemanan dan hubungan yang terbentuk sepanjang hidupnya. Para pelayat datang silih berganti untuk menyampaikan simpati kepada keluarga.

Baca Juga: Konten Boneka di Surabaya Viral, Kreator Diperiksa Korban Terungkap

Dari Rumah Duka Menuju TPU Karet Bivak

Setelah disemayamkan di rumah duka, rangkaian penghormatan dilanjutkan menuju tempat pemakaman. Pemberitaan pada Sabtu menyebut jenazah Guruh akan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Proses tersebut menjadi bagian terakhir dari perjalanan Guruh bersama keluarga, kerabat, dan orang-orang yang mengenalnya. Sejak pagi, suasana berkabung telah terasa melalui kedatangan pelayat dan karangan bunga yang memenuhi sekitar kediamannya. Kemudian, satu per satu tokoh nasional hadir menyampaikan belasungkawa. SBY hingga JK menjadi dua di antara banyak figur yang datang memberikan penghormatan. Rangkaian tersebut berlangsung hanya beberapa jam setelah kabar wafatnya Guruh tersebar. Di balik ramainya perhatian publik, keluarga tentu menghadapi kehilangan yang jauh lebih personal. Pemakaman menjadi titik perpisahan, sementara karya dan perjalanan hidup Guruh tetap menjadi bagian dari ingatan keluarga maupun masyarakat yang mengikuti kiprahnya.

Kepergian Guruh Meninggalkan Jejak di Banyak Ruang

Kepergian Guruh Soekarnoputra membawa kembali perhatian publik pada perjalanan hidupnya yang melintasi banyak bidang. Nama keluarga memberinya tempat penting dalam sejarah Indonesia. Namun, seni dan kebudayaan memberi Guruh ruang untuk membangun jejaknya sendiri. Musik, koreografi, aktivitas politik, serta gagasan kebangsaan menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Karena itu, kedatangan tokoh nasional ke rumah duka memiliki konteks yang lebih luas daripada sebuah seremoni. Mereka hadir untuk memberikan penghormatan kepada seseorang yang selama puluhan tahun berada di ruang publik. Pada saat yang sama, masyarakat kembali mengenang karya yang pernah ia hasilkan. Kehadiran SBY hingga JK, pejabat negara, tokoh hukum, dan berbagai figur lainnya menjadi bagian dari penghormatan terakhir tersebut. Setelah prosesi pemakaman berakhir, perhatian mungkin perlahan mereda. Namun, karya budaya yang pernah lahir dari tangan Guruh akan tetap menjadi bagian dari rekam perjalanan seni Indonesia.